By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
djapost.comdjapost.comdjapost.com
  • Nasional
  • Jabar Raya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hukum dan Kriminal
Cari
  • Nasional
  • Jabar Raya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hukum dan Kriminal
© 2024 Djapost | All Rights Reserved.
Reading: Uang Korupsi Kerap Lari ke Wanita, Wakil Ketua KPK: Biasanya Cari yang Bening-Bening
Sign In
Font ResizerAa
Font ResizerAa
djapost.comdjapost.com
Cari
  • Nasional
  • Jabar Raya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hukum dan Kriminal
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Djapost | All Rights Reserved.
DaerahHukum dan KriminalNasional

Uang Korupsi Kerap Lari ke Wanita, Wakil Ketua KPK: Biasanya Cari yang Bening-Bening

Admin
17/04/2026 10:19
Admin
2 Min Read

Jakarta, Djapost.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan aliran uang korupsi kerap lari ke wanita simpanan. Fakta itu merupakan sebagian bentuk dari tindak pidana pencucian uang (TPPU) oleh pelaku korupsi.

“Pelaku korupsi 81 persennya laki-laki, biasanya cari yang bening-bening, tapi betul itu adanya, ratusan juta dikucurkan ke cewek itu,” ungkap Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo saat memberikan pemaparan di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kamis (16/4)

Menurutnya, aliran uang hasil korupsi kerap berujung pada hubungan terlarang dengan wanita simpanan sebagai bentuk dari tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Begitu melakukan korupsi, si koruptor sudah memberikan ke semuanya, istri sudah anak sudah, keluarga sudah, untuk amal ibadah sudah, sumbangan sana-sini sudah, piknik sudah, tabungan sudah, bingung ke manakah uang, misalnya Rp1 miliar ini, kalau ditaruh kolong takut dimakan kecoa, kalau ditaruh tabungan takut PPATK, salah satu modus yang sering terjadi adalah mengalirkan uang kepada perempuan simpanan,” ucap Ibnu.

Ia menegaskan, hubungan antara korupsi dan perselingkuhan memang kerap terjadi dalam praktik.

“Perselingkuhan itu muncul karena korupsi, itu salah satunya. Bisa korupsi dahulu kemudian terjadi perselingkungan, bisa selingkuh menjadi korupsi,” katanya.

Ibnu juga menyoroti dampak luas dari praktik korupsi terhadap negara, salah satunya adalah kerugian negara yang berdampak langsung pada pembangunan.

“Anggaran yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan justru disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok,” ucapnya. (Rz)

[ruby_related total=5 layout=5]

Previous Article KPK Ungkap Ada Permintaan “Bocil” Kabid di Dinas Cipta Karya Tidak Diganti
Next Article Tuntut Penyelidikan Dugaan Korupsi Kendaraan Dinas dan Ijon Proyek, Mahasiwa Gelar Aksi Unjuk Rasa di Kantor Bupati Bekasi
© 2022 Djapost | All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account